Sahabat-sahabatku,
kali ini saya akan bercerita tentang kisah dua orang sahabat Nabi yang
begitu mencintai beliau yang rela mati demi Allah, agama, dan Rasul.
Kisah ini bermula dari penyerangan beberapa orang suku Lihyan
cabang Hudzayl terhadap enam orang muslim yang sedang berdakwah di dua
suku kecil yang berdekatan. Perjumpaan mereka terjadi di Raji', di dekat
sumber mata air yang tidak jauh dari Mekah. Tiga sahabat Nabi tewas
dalam pertarungan dan tiga lagi tertangkap dan di tawan. Namun, seorang
sahabat
di bunuh setelah mencoba melarikan diri. Di antara
sahabat Nabi yang meninggal, ada 'Ashim dari suku 'Aws yang telah
membunuh dua orang Quraisy di Perang Uhud. Ibu dari kedua orang
itu telah bersumpah untuk meminum air dari tengkoraknya. Maka,
orang-orang Hudzayl itu pun berniat untuk menjual kepala 'Ashim kepada
ibu itu. Akan tetapi, seketika tubuh 'Ashim terlindungi oleh sekawanan
tawon sampai malam tiba, dan sepanjang malam tubuhnya terendam oleh air
bah, sehingga niat buruk ibu itu pun tidak kesampaian. Setelah
kematiannya pun Allah masih melindungi mayatnya. Begitulah seorang
syuhada akan mendapat keistimewaan dari Allah walaupun nyawa telah
meninggalkan raga.
Lain lagi, dengan
dua tawanan lagin, yaitu Khubayb dan Zayd. Mereka dijual kepada orang
Quraisy yang masih menyimpan dendam terhadap mereka atas kematian
kerabat mereka pada saat Perang Badr. Khubayd dari suku 'Aws dibeli oleh
seorang lelaki dari Bani Nawfal sedangkan Zayd dari suku Khazraj dibeli
oleh Shafwan. Mereka kemudian di bawa ke suku-suku pembelinya agar
dapat di bunuh beramai-ramai sebagai ajang pembalasan dendam atas
kematian ayah mereka. Mereka ditawan di Mekah hingga bulan suci berlalu.
Ketika
tanda-tanda bulan Shafar telah datang, kedua tawanan ini digiring keluar
Mekah menuju Tan'im. Sahabatku, pada saat inilah mereka bertemu kembali
untuk yang pertama kalinya sejak mereka ditawan. Mereka saling
berpelukan dan saling menasehati untuk selalu bersabar. Kemudian Bani
Nawfal menggiring Khubayb, dan saat ia melihat mereka akan mengikat dan
memenggal kepalanya, ia meminta izin untuk mendirikan sholat dua rakaat.
Diriwayatkan bahwa sejak itulah disunnahkan sholat dua rakaat bagi
tahanan sebelum dibunuh.
Khubayb segera
diikat dan dipersiapkan untuk dipenggal kepalanya. Tapi sebelum itu,
mereka (orang-orang Quraisy) berkat padanya, "Keluarlah dari Islam, maka
kami akan melepaskanmu!" "Meski seluruh isi dunia ini diberikan
kepadaku," jawabnya, "aku tak akan pernah murtad dari agamaku!"
"Tidakkah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini, dan kau kembali ke rumah untuk beristirahat?" tanya mereka. "Aku tak akan membiarkan Muhammad
tertusuk sepucuk duri pun agar aku bisa tinggal di rumah," jawabnya.
"Menyerahlah, Khubayb!" mereka membujuknya, "agar kami tidak jadi
membunuhmu." "Kematian hanyalah hal sepele jika itu demi Tuhanku,"
jawabnya. "Dan jika kalian memalingkan aku dari arah kiblat"-karena
mereka mengarahkan tubuhnya membelakangi Mekah-"maka sungguh Allah telah
berfirman, 'Kemana pun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhanmu!'"
(QS. AL-Baqarah (2): 115). Kemudian ia berkata lagi, "Ya Allah, tak
seorang pun di sini yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu,
maka sampaikanlah salamku kepadanya."
Saat itu, Nabi
sedang berada di Madinah bersama sahabat-sahabat lainnya. Tiba-tiba
beliau bersikap seperti saat beliau sedang mendapatkan wahyu. Para
sahabat mendengar beliau menjawab, "Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!" Beliau
menjelaskan, "Jibril baru saja menyampaikan salam dari sahabatku,
Khubayb." (Waqidi, rujukannya adalah edisi Marsden Jones dari Kitab al-Maghazi, seputar dakwah-dakwah Nabi, oleh Muhammad ibn 'Umar al-Waqidi hal:360)
Ada sekitar 40
anak laki-laki yang ayahnya terbunuh di Perang Badr. Masing-masing
mereka memegangi tombak, dan pemimpin mereka berkata, "Orang inilah yang
telah membunuh ayah-ayah kalian di Perang Badr." Mereka langsung
menghujani Khubayb dengan tombak, tapi belum berhasil mengakhiri
hidupnya. Maka salah seorang memegangi tangan seorang anak laki-laki,
dan membantunya menusukkan tombak, hingga memberikan luka yang
mematikan. Khubayb bertahan hingga satu jam, dan akhirnya menghembuskan
nafas terakhirnya dengan mengucapkan, "Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad utusan Allah."
Setelah itu
giliran Zayd yang digiring oleh mereka untuk dibunuh. Zayd juga
melaksanakan sholat dua rakaat. Ketika ia ditanya oleh orang Quraisy
seperti sebelumnya, ia pun menjawab hal yang sama dengan Khubayb.
Kemudian ia pun dibunuh. Setelah itu, Akhnas ibn Syariq, sekuu Zuhrah
yang turut pergi Tan'im, dengan sangat terkesan kepada sahabat-sahabat
Nabi dengan berkomentar, "Rasanya tidak pernah ada seorang ayah yang
mencintai anaknya seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad."
Maha suci Allah,
Maha Agung Allah, Segala Puji hanya baginya. Lihatlah saudaraku, betapa
cintanya mereka terhadap Allah, agama dan Nabi-Nya. Sungguh mulia.
Semoga Allah juga memberikan keteguhan iman kepada kita seperti yang
yang Ia berikan kepada dua sahabat ini. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Sumber: nefriyandi.blogspot.com






0 komentar:
Posting Komentar