Rabu, 02 Januari 2013

Kisah Sahabat Nabi, Khubayb dan Zayd

Sahabat-sahabatku, kali ini saya akan bercerita tentang kisah dua orang sahabat Nabi yang begitu mencintai beliau yang rela mati demi Allah, agama, dan Rasul.

Kisah ini bermula dari penyerangan beberapa orang suku Lihyan cabang Hudzayl terhadap enam orang muslim yang sedang berdakwah di dua suku kecil yang berdekatan. Perjumpaan mereka terjadi di Raji', di dekat sumber mata air yang tidak jauh dari Mekah. Tiga sahabat Nabi tewas dalam pertarungan dan tiga lagi tertangkap dan di tawan. Namun, seorang sahabat
di bunuh setelah mencoba melarikan diri. Di antara sahabat Nabi yang meninggal, ada 'Ashim dari suku 'Aws yang telah membunuh dua orang Quraisy di Perang Uhud. Ibu dari kedua orang itu telah bersumpah untuk meminum air dari tengkoraknya. Maka, orang-orang Hudzayl itu pun berniat untuk menjual kepala 'Ashim kepada ibu itu. Akan tetapi, seketika tubuh 'Ashim terlindungi oleh sekawanan tawon sampai malam tiba, dan sepanjang malam tubuhnya terendam oleh air bah, sehingga niat buruk ibu itu pun tidak kesampaian. Setelah kematiannya pun Allah masih melindungi mayatnya. Begitulah seorang syuhada akan mendapat keistimewaan dari Allah walaupun nyawa telah meninggalkan raga.
Lain lagi, dengan dua tawanan lagin, yaitu Khubayb dan Zayd. Mereka dijual kepada orang Quraisy yang masih menyimpan dendam terhadap mereka atas kematian kerabat mereka pada saat Perang Badr. Khubayd dari suku 'Aws dibeli oleh seorang lelaki dari Bani Nawfal sedangkan Zayd dari suku Khazraj dibeli oleh Shafwan. Mereka kemudian di bawa ke suku-suku pembelinya agar dapat di bunuh beramai-ramai sebagai ajang pembalasan dendam atas kematian ayah mereka. Mereka ditawan di Mekah hingga bulan suci berlalu.

Ketika tanda-tanda bulan Shafar telah datang, kedua tawanan ini digiring keluar Mekah menuju Tan'im. Sahabatku, pada saat inilah mereka bertemu kembali untuk yang pertama kalinya sejak mereka ditawan. Mereka saling berpelukan dan saling menasehati untuk selalu bersabar. Kemudian Bani Nawfal menggiring Khubayb, dan saat ia melihat mereka akan mengikat dan memenggal kepalanya, ia meminta izin untuk mendirikan sholat dua rakaat. Diriwayatkan bahwa sejak itulah disunnahkan sholat dua rakaat bagi tahanan sebelum dibunuh.

Khubayb segera diikat dan dipersiapkan untuk dipenggal kepalanya. Tapi sebelum itu, mereka (orang-orang Quraisy) berkat padanya, "Keluarlah dari Islam, maka kami akan melepaskanmu!" "Meski seluruh isi dunia ini diberikan kepadaku," jawabnya, "aku tak akan pernah murtad dari agamaku!" "Tidakkah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini, dan kau kembali ke rumah untuk beristirahat?" tanya mereka. "Aku tak akan membiarkan Muhammad tertusuk sepucuk duri pun agar aku bisa tinggal di rumah," jawabnya. "Menyerahlah, Khubayb!" mereka membujuknya, "agar kami tidak jadi membunuhmu." "Kematian hanyalah hal sepele jika itu demi Tuhanku," jawabnya. "Dan jika kalian memalingkan aku dari arah kiblat"-karena mereka mengarahkan tubuhnya membelakangi Mekah-"maka sungguh Allah telah berfirman, 'Kemana pun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhanmu!'" (QS. AL-Baqarah (2): 115). Kemudian ia berkata lagi, "Ya Allah, tak seorang pun di sini yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu, maka sampaikanlah salamku kepadanya."

Saat itu, Nabi sedang berada di Madinah bersama sahabat-sahabat lainnya. Tiba-tiba beliau bersikap seperti saat beliau sedang mendapatkan wahyu. Para sahabat mendengar beliau menjawab, "Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh!"  Beliau menjelaskan, "Jibril baru saja menyampaikan salam dari sahabatku, Khubayb." (Waqidi, rujukannya adalah edisi Marsden Jones dari Kitab al-Maghazi, seputar dakwah-dakwah Nabi, oleh Muhammad ibn 'Umar al-Waqidi hal:360)

Ada sekitar 40 anak laki-laki yang ayahnya terbunuh di Perang Badr. Masing-masing mereka memegangi tombak, dan pemimpin mereka berkata, "Orang inilah yang telah membunuh ayah-ayah kalian di Perang Badr." Mereka langsung menghujani Khubayb dengan  tombak, tapi belum berhasil mengakhiri hidupnya. Maka salah seorang memegangi tangan seorang anak laki-laki, dan membantunya menusukkan tombak, hingga memberikan luka yang mematikan. Khubayb bertahan hingga satu jam, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan mengucapkan, "Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad utusan Allah."

Setelah itu giliran Zayd yang digiring oleh mereka untuk dibunuh. Zayd juga melaksanakan sholat dua rakaat. Ketika ia ditanya oleh orang Quraisy seperti sebelumnya, ia pun menjawab hal yang sama dengan Khubayb. Kemudian ia pun dibunuh. Setelah itu, Akhnas ibn Syariq, sekuu Zuhrah yang turut pergi Tan'im, dengan sangat terkesan kepada sahabat-sahabat Nabi dengan berkomentar, "Rasanya tidak pernah ada seorang ayah yang mencintai anaknya seperti para sahabat Muhammad mencintai Muhammad."

Maha suci Allah, Maha Agung Allah, Segala Puji hanya baginya. Lihatlah saudaraku, betapa cintanya mereka terhadap Allah, agama dan Nabi-Nya. Sungguh mulia. Semoga Allah juga memberikan keteguhan iman kepada kita seperti yang yang Ia berikan kepada dua sahabat ini. Amin ya Rabbal 'Alamin.
 

0 komentar:

Posting Komentar