Rabu, 02 Januari 2013

Keteguhan Iman

Saudar/i ku, kali ini aku akan menceritakan keteguhan iman kaum muslim saat di uji dengan cobaan yang sangat berat. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita.
 
Pada perang parit, sekitar 10.000 tentara Quraisy beserta sekutu-sekutu mereka menyerang Madinah. Selama berhari-hari peperangan hanya sebatas perang anak panah. Tapi pada saat itulah kaum muslim di uji oleh Allah. Belum nyata keimanan seseorang sebelum ia di uji dengan cobaan yang berat, hingga mendekati keputus asaan. Tentara muslim harus menjaga sisi-sisi parit agar tidak bisa dilewati musuh. Bahaya tidak hanya berasal dari luar, Bani Qurayzah (Yahudi di Madinah) pun memutuskan perjanjian dengan Rasul sehingga mereka pun ingin berperang melawan Nabi.
Melihat keteguhan iman tentara muslim, salah seorang musuh, Nu'aym tersentuh hatinya dan datang menemui Nabi dan menyatakan islam. Setelah itu, ia meminta tugas kepada Rasul. Sesuai dengan kemampuannya, ia ditugaskan untuk memecah belah di pihak musuh, karena tak ada dari mereka yang tau jika ia sudah islam. Berbohong diperboleh dalam perang. Akhirnya ia mendatangi bani Qurayzah dan berkata, "Hai bani Qurayzah, sungguh jika Quraisy tidak berhasil mengalahkan Muhammad mereka akan meninggalkan kalian dalam penguasaan Muhammad. Mintalah pada mereka sandera yang menjamin agar mereka tidak akan pergi sebelum mengalahkan Muhammad. Tapi jangan beritau jika aku mengusulkan ini pada kalian". Mereka pun menyetujuinya.

Kemudian Nu'aym berangkat ke tentara Quraisy, "Hai Quraisy, bani Qurayzah telah mengirimkan surat permintaan maaf kepada Muhammad, mereka menyesali perbuatan mereka dan berjanji akan membunuh kepala suku Quraisy untuk menebusnya. Jadi jika mereka meminta sandera dari kalian, janganlah kalian menerimanya. Tapi jangan kalian beritau jika aku yang memberi tau kalian." Tentara Quraisy sangat marah tetapi berniat untuk berdiam diri dan membuktikan perkataan Nu'aym tersebut.

Pada keesokan harinya, bani Qurayzah pun memintakan sandera kepada Quraisy. "Hai Quraisy kami takut jika kalian tak berhasil mengalahkan Muhammad kalian akan meninggalkan kami dalam penguasaannya. Maka dari itu kami minta sandera dari kepala suku kalian sebagai jaminan kalau kalian tidak akan meninggalkan kami sebelum mengalahkan Muhammad." Tentara Quraisy pun percaya dengan perkataan Nu'aym. 

Beberapa hari berlangsung, persediaan makanan dari kedua belah pihak pun mulai menipis. Bani Ghatafan yang ikut perang ini pun mulai berencana untuk pulang. Dalam perang ini mereka hanya berniat untuk rampasan perang bukan untuk memerangi Nabi.

Pada suatu malam angin berhembus sangat kencang hingga memporak-porandakan perkemahan musuh. Anehnya, angin itu tidak merusak perkemahan tentara muslim, akan tetapi rasa dinginnya sangat menusuk. Ketika hari mulai bercahaya, Nabi berkata "Siapa yang akan bangkit dan pergi untuk melihat kondisi musuh, lalu kembali lagi kesini, dan akan aku mohonkan kepada Allah agar ia menjadi shabatku di surga?" Meski demikian tidak ada tanggapan, mereka begitu ketakutan dan sangat kedinginan serta kelaparan sehingga tak ada seorang pun yang mampu berdiri tegak. Setelah tak ada yang mau bangkit, Nabi memanggil Hudzayfah, hingga ia pun tak dapat menolak. Ia melihat tentara Quraisy yang tengah bertiarap. Kemudian ia kembali lagi ke perkemahan.

Menjelang fajar dan angin pun sudah lenyap, Abu Sufyan berteriak keras, "Hai orang-orang Quraisy, kuda dan unta kita telah mati, Bani Qurayzah telah meninggalkan kita dan kita diberi tau bahwa mereka berusaha menghianati kita, dan sekarang kita menderita karena angin seperti yang kalian lihat. Maka, pergilah dari tempat ini, karena aku pun akan pergi." Ia langsung melompat ke tas untanya hingga lupa melepaskan tali kekangnya. Namun 'Ikrimah (Putra Abu Jahl), berkata padanya, "Kau pemimpin kaummu. Akankah kau pergi meninggalkan kami begitu saja dan meninggalkan orang-orang dibelakang?" Kemudian ia pun merasa malu. Tentara Quraisy pun berkemas dan mulai meninggalkan tempatnya seperti yang sudah dilakukan Bani Ghatafan.

Khalid ibn Walid berkata, "Setiap orang yang berakal sehat pasti tau bahwa Muhammad tidaklah berdusta," lalu Abu Sufyan menyangkalnya "Kau tidak pastas bicara begitu", "kenapa?" tanya Khalid. "Karena Muhammad telah merendahkan kehormatan ayahmu dan telah membunuh kepala sukumu, Abu Jahl." Kemudian mereka pun pergi meninggalkan Madinah, dan menjadikan kemenangan bagi tentara muslim.
Subhanallah, ketika kita teguh saat diberi cobaan, pertolongn Allah akan datang. Yakinlah bahwa Ia menyayangimu. Allah beserta orang-orang yang sabar.
 

0 komentar:

Posting Komentar